Untuk yang kelima kalinya dalam kurun waktu 2 minggu, saya
lebih memilih duduk manis di pojokan kiri sekretariat jurusan. Tujuan dari
sejuta mahasiswa didunia; mencari dosen pembimbing. Karena tidak hanya saya,
beberapa mahasiswa yang juga memegang map folder seperti yang saya lakukan. Jika
saya hanya duduk manis sambil memegangi ponsel jika saja datang informasi
penundaan bimbingan, yang lain ada yang mondar-mandir, menunggu dosen sambil
berduaan dengan kekasih, dan ada yang bersenda gurau dengan teman sejawat.
Draf skripsi yang telah saya susun sedemikian rupa sejak
beberapa minggu lalu belum kunjung menemui tuannya. Saya dengan keteguhan hati,
siap mengantarkan draf tersebut ke meja dewan hakim a.k.a Dosen pembimbing. Harap-harap
cemas jika saja nanti dikembalikan dengan keadaan lusuh penuh coretan, itu
berarti harus ada perbaikan.
Sesungguhnya tidak perlu pusing memikirkan hal tersebut. Saya
mungkin adalah salah satu mahasiswa yang beruntung. Diantara mereka yang duduk
gelisah di pojokan ini, saya merupakan angkatan termuda yang menggeluti
kesibukan ini. Tidak layak untuk saya mengeluh, karena belum pantas untuk
disebut sebagai sebuah perjuangan. Mereka-lah yang lebih berjuang. Senior tahun
akhir masa penghabisan yang melalui perjuangan mencapai gelar S.Sos dengan
berdarah-darah, walau belum kunjung membuahkan hasil.
Pesan singkat penundaan bimbingan sudah mejadi santapan
sehari-hari, walau dirumah mereka harus dihantui oleh pertanyaan ‘kapan wisuda’
oleh keluarga hingga teman sejawat. Bahkan “acc” lebih terasa romantis daripada
sekedar puisi cinta.
Jika saja memang penundaan tersebut terjadi lagi hari ini,
saya hanya bisa mengulang pernyataan yang sama, saya tidak lebih berjuang daripada mereka. Itu sudah cukup membuat
saya kuat untuk menelan bulat-bulat permintaan percepatan wisuda dari orang
tua. Barangkali pernyataan tersebut bisa memotivasi kita untuk tetap berusaha
keras dan lebih baik lagi.
Mungkin saya memang bukan mahasiswa yang berprestasi betul. Ada
banyak organisasi dan kegiatan yang ingin saya geluti, namun faktor domisili di
dalam kota serta terikat oleh tradisi perempuan minang yang membuat saya tidak
bisa bergerak bebas menjadi sebuah masalah yang sangat besar bagi diri saya. Saya
merupakan tipikal mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan organisasi jika saja
mendapat izin dari orangtua dan tidak beraktivitas diluar rumah pada malam
hari.
Terakhir ini, saya mungkin saja sedikit menyesal dengan
lahirnya saya atas keterkekangan ini yang berkepanjangan. Namun, tidak ada
sesuatu yang sia-sia didunia ini. Tertundanya draf skripsi oleh pembimbing
dengan jeda yang tersedia bisa menjadi wadah saya untuk tetap memberikan
sesuatu sebelum bisa meninggalkan bangku mahasiswa. Mungkin tidak banyak,
dimulai dari membaca buku, menulis, me-review
materi lalu, dan melakukan hal-hal yang positif. Tentu saja masih dalam ala saya, bukan seperti kamu ataupun
mereka (seperti yang telah saya katakan latar belakang tradisi yang ada di
keluarga saya).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar