#SATUKATACINTA

Jika kita sudah mengangkat tangan, Insya Allah Tuhan akan turun tangan

Kamis, 16 November 2017

Ketika kata “acc” lebih romantis daripada cinta


Untuk yang kelima kalinya dalam kurun waktu 2 minggu, saya lebih memilih duduk manis di pojokan kiri sekretariat jurusan. Tujuan dari sejuta mahasiswa didunia; mencari dosen pembimbing. Karena tidak hanya saya, beberapa mahasiswa yang juga memegang map folder seperti yang saya lakukan. Jika saya hanya duduk manis sambil memegangi ponsel jika saja datang informasi penundaan bimbingan, yang lain ada yang mondar-mandir, menunggu dosen sambil berduaan dengan kekasih, dan ada yang bersenda gurau dengan teman sejawat.
Draf skripsi yang telah saya susun sedemikian rupa sejak beberapa minggu lalu belum kunjung menemui tuannya. Saya dengan keteguhan hati, siap mengantarkan draf tersebut ke meja dewan hakim a.k.a Dosen pembimbing. Harap-harap cemas jika saja nanti dikembalikan dengan keadaan lusuh penuh coretan, itu berarti harus ada perbaikan.
Sesungguhnya tidak perlu pusing memikirkan hal tersebut. Saya mungkin adalah salah satu mahasiswa yang beruntung. Diantara mereka yang duduk gelisah di pojokan ini, saya merupakan angkatan termuda yang menggeluti kesibukan ini. Tidak layak untuk saya mengeluh, karena belum pantas untuk disebut sebagai sebuah perjuangan. Mereka-lah yang lebih berjuang. Senior tahun akhir masa penghabisan yang melalui perjuangan mencapai gelar S.Sos dengan berdarah-darah, walau belum kunjung membuahkan hasil.
Pesan singkat penundaan bimbingan sudah mejadi santapan sehari-hari, walau dirumah mereka harus dihantui oleh pertanyaan ‘kapan wisuda’ oleh keluarga hingga teman sejawat. Bahkan “acc” lebih terasa romantis daripada sekedar puisi cinta.
Jika saja memang penundaan tersebut terjadi lagi hari ini, saya hanya bisa mengulang pernyataan yang sama, saya tidak lebih berjuang daripada mereka. Itu sudah cukup membuat saya kuat untuk menelan bulat-bulat permintaan percepatan wisuda dari orang tua. Barangkali pernyataan tersebut bisa memotivasi kita untuk tetap berusaha keras dan lebih baik lagi.
Mungkin saya memang bukan mahasiswa yang berprestasi betul. Ada banyak organisasi dan kegiatan yang ingin saya geluti, namun faktor domisili di dalam kota serta terikat oleh tradisi perempuan minang yang membuat saya tidak bisa bergerak bebas menjadi sebuah masalah yang sangat besar bagi diri saya. Saya merupakan tipikal mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan organisasi jika saja mendapat izin dari orangtua dan tidak beraktivitas diluar rumah pada malam hari.

Terakhir ini, saya mungkin saja sedikit menyesal dengan lahirnya saya atas keterkekangan ini yang berkepanjangan. Namun, tidak ada sesuatu yang sia-sia didunia ini. Tertundanya draf skripsi oleh pembimbing dengan jeda yang tersedia bisa menjadi wadah saya untuk tetap memberikan sesuatu sebelum bisa meninggalkan bangku mahasiswa. Mungkin tidak banyak, dimulai dari membaca buku, menulis, me-review materi lalu, dan melakukan hal-hal yang positif. Tentu saja masih dalam ala saya, bukan seperti kamu ataupun mereka (seperti yang telah saya katakan latar belakang tradisi yang ada di keluarga saya). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar