#SATUKATACINTA

Jika kita sudah mengangkat tangan, Insya Allah Tuhan akan turun tangan

Minggu, 27 September 2015

KUMPULAN CERPEN : JANTUNG HANYA MENGIZINKANMU BERDETAK

baru belajar sih bikin cerpen. tolong tinggalkan komentar dan saran. ini sangat berkontribusi dalam karya saya berikutnya... :) ini asli karya saya sendiri :D



Jantung Hanya Mengizinkanmu Berdetak

“Ira tidak mau balik ? sudah setengah jam ini”
            Aku  menoleh dengan malas. Ku gerakkan kepala sedikit untuk mengkonfirmasi pertanyaan dini. Hujan memang sudah turun dari tadi. Perlahan membasahi dedaunan sampai  merunduk. Mobil yang berlalu lalang samar-samar kacanya tertutupi oleh bulir-bulir yang sekarang menjadi puluhan,ratusan,dan bahkan ribuan tetesnya dari langit. Ada yang sedang berhenti di halte bis seberang jalan untuk berteduh. Ada pula yang menghentikan sepeda motor dan buru-buru berteduh di atap halte agar tidak terlalu basah kuyup.  Tampak sepasang remaja tanggung sepertiku singgah sebentar di bagian kanan halte. Jelas tampak dari sini adalah sepasang muda-mudi. Perempuan mengenakan kerudung percampuran warna merah hati dan sedikit bercak-bercak biru hitam dan lelaki dengan kemeja hitamnya. Senyum tipis dan candaan ringan ikut lumat dalam derai tawanya. Entahlah, mungkin tidak hanya aku yang menyukai hujan. Setiap bulir yang turun selalu memberi aura positif pada setiap orang. Kurasa begitu. Ini adalah salah satu alasanku enggan balik bersama dini yang sudah menaiki bis baru-baru ini.
Aku sudah mulai masuk sekolah lagi. Terima kasih ira. Kamu teramat pintar dalam menyentuh hati seseorang. Aku berjanji tak akan pernah mengingat kecelakaan itu, bagaimana mungkin kamu memprediksi setiap detailnya padahal kita hanya bertemu tanpa tampak muka ?
Sedikit sudut bibirku tersenyum tanggung membaca kata per kata pesannya. Jemariku tak sabar ingin membalas pesan singkat itu. Dari seseorang yang tak tampak. Dia bagai jantung yang bisa saja dirasa detaknya, namun aku tak pernah bisa menggenggam dan melihatnya. Itu dia,Dani. Lelaki yang sampai sekarang tak ku ketahui rupanya. Dengan senang hati nanti akan kuceritakan bagaimana indahnya lelaki itu. Hujan sepertinya turut terhenyak dengan gejolak hatiku saat ini. Aku yang sempat sedikit iri dengan sepasang muda-mudi tadi mengangkat dagu dan tak tertarik lagi dengan kemesraannya.
***
Selepas mengantar pamanku yang tengah berlibur disini, Aku terburu untuk membeli sebuah air minum di toko kecil pelataran bandara. Anak dari pamanku yang masih 2 tahun tiba-tiba menangis karena belum minum dari sejam yang lalu. Mataku  dengan liar melirik kiri kanan dan ujung ke ujung bandara, tampaklah satu kedai kecil dan retina mataku menangkap ada air mineral disana, dengan terburu dan sigap aku langsung melesat tanpa memperhatikan orang disekitar. Entahlah aku saja tak bisa melihat mereka yang kutabrak, refleks aku meminta maaf sungguh-sungguh, wanita yang seperkiraanku berumur 30an itu –ketika aku perhatikan pasca tertabrak- urung memarahiku dan hanya menggeleng . Oh maafkan aku karena seceroboh ini. Satu persatu kucoba untuk berjalan lebih fokus dari segerombalan orang dengan mendorong keranjang barang. Mungkin saja mereka akan check in atau semacamnya. Dengan sigap jam tangan yang mulai lepas dari tangan kucoba perbaiki cepat dan seketika…
BRUKKK!!!
Tubuhku sekelebat ambruk menimpa sebuah benda keras didepanku. Oh tidak, ternyata itu beberapa benda yang sangat sakit menimpa kepalaku. Kuraba sedikit, untung tidak terasa darah dan kupastikan aku baik-baik saja. kucoba memberanikan diri membuka mata dan mencari siapa pemilik benda keras itu – yang beberapa detik kuketahui itu adalah koper– sampai-sampai meletakkannya di sembarang tempat. Aku mulai gelagapan dan darahku tak karuan ketika roda dorongan koper tersebut lepas dari sarangnya. Ya Tuhan! Kenapa aku seceroboh ini. Tak ada siapa-siapa didekat tumpukan koper. Dengan cepat kukeluarkan pulpen dan secarik kertas lalu menuliskan sesuatu.
            Maaf aku tak sengaja merusak kopermu, akan kuganti jika kau menuntut. 081275453645. Thanks.
Kertas itu ku tinggalkan dan aku segera berlalu sembari hendak menyegerakan diri membeli air minum.
***
            Aku membalas pesan singkatnya dengan kata sederhana dariku. Jemariku mengetik  dengan apa adanya dan terbias sesuatu. Ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu. Sebelumnya aku tak tertarik dengan perkenalan semu ini. Aku sebelumnya jika tidak tau apa tuan pemilik koper tersebut pria ataupun wanita. Seusia denganku atau malah lebih tua dariku. Saat itu aku hanya sang pendosa yang berharap meminta ampun atas kekacauan yang telah ku perbuat. Tak kusangka ternyata responnya malah welcome sekali. Bahkan sampai sekarang pesan singkatnya itu masih kusimpan di telepon genggamku.
Tidak apa-apa. Kau sangat baik dan bertanggung jawab sekali. Sebenarnya koperku juga sudah rusak sebagian. Siapapun kamu , kau teramat baik.
            Pesan singkat itu memberi goresan dihatiku. Siapapun itu, dia sangat lembut. Kubalas pesan demi pesan yang bertubi-tubi datang setelah kubalas pesan pertama darinya. Sungguh indah rencana Tuhan, dia masih muda. Umurnya selisih 2 tahun dariku. Itu ku ketahui dari proses berkenalan selama setahun dengannya. Selanjutnya hari-hari kami menyenangkan. Perkenalan semu ini tak terasa, bahkan ketika sudah  setahun berlalu.
***

“ini sudah sore ra, ayo. Kau kuantar pulang”
Lamunanku yang masih menyentuh bulir hujan tersendat ketika mendengar suara nanda. Aku sudah hafal sekali dengan suaranya. Aku tau dari gerak geriknya dia menyukaiku. Tidak. Aku sama sekali tak tertarik padanya.  Aku menyukai seseorang yang semu, ya. Terdengar aneh dalam hati kalian. Terlalu dini dan kalian tak akan mengerti. Bagai jantung yang tak terlihat. Detaknya bisa dirasakan, tapi tak dengan wujudnya . bahkan saat kau tiada, kau tak akan dapat menyentuh jantungmu.
            Aku mengangguk saat dia menawarkan . kunaiki motor ninja keluaran tahun 2013 itu dengan santai. Nanda memang sudah dekat denganku dari kelas 2 SMP. Berulang kali dia memintaku menjadi pacarnya. Aku urung.  Ia tak pernah lelah mengejar cintaku hingga sekarang.
            Tujuh delapan kilo terlampaui, nanda berbelok kearah kanan persimpangan masjid Al-furqon yang berarti itu komplek rumahku. Detik-detik memasuki pagar rumah sebelum turun, aku menyandang ranselku  yang tadi kugenggam.
“terima kasih nan, padahal rumahmu berlainan arah denganku. Maaf aku merepotkanmu”
Matanya teduh. Bibirnya tersungging manis diwajah tampannya.
“hanya ini yang bisa kulakukan demi mu. Kelak kuharap kau menerimaku, ira”
“kamu sangat tampan nanda, terimalah salah seorang yang memberi cokelat lusa kemarin padamu”
Dia berlalu dengan ekspresi yang sama sekali tak kumengerti.  Aku tau matanya teduh dan berhati lembut. Entah apa yang salah didiriku. Sama sekali aku tak tertarik dengan mata teduhnya.

***

            Pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya. Mungkin karena masih tersisa keteduhan hujan yang membawa kedamaian. Hujan yang selalu menjatuhkan bulir yang kurasa semu oleh nalarku. Saat semua bisa dijelaskan oleh penggila pengetahuan . dari proses evaporasi hingga naik ke awan kemudian terjadi kondensasi dan lanjut menjadi proses turunnya bulir-bulir indah seperti ini. Tapi masih sangat semu bagiku, mengapa bisa saat mendongak keatas bulir itu tak terlihat tampak dari awan, bahkan dari langit. Ku ambil kesimpualn itu kuasa Tuhan.
            Aku sangat bahagia sekali mendengar kabar dari Dani bahwa ia akan segera di operasi. Ah aku lupa cerita bahwa Dani sebenarnya lumpuh sejak ia kecelakaan 2 tahun yang lalu. Otot dikakinya tak bisa digerakkan. Ia memulai kehidupan diambang keputus asaan. Kenapa tidak, dia adalah seorang atlet renang dengan segudang medali dikamarnya –semua cerita itu kutau darinya- yang ia raih sebelum kecelakaan tragis itu. Kami saling bertukar foto lewat email. Dari matanya terlihat kesedihan yang mendalam. Di relung hatiku, aku sangat merasa dekat dengannya. Sekali lagi, kedekatan yang semu. Dia selalu memujiku dengan “kau benar-benar berbakat menghibur orang sepertiku , Ira” atau dengan “bagaimana mungkin aku bisa seteguh ini dengan motivasimu”.
            Kabar dani segera kuceritakan pada dini yang sedari tadi sudah sibuk dengan paper untuk tugas hari ini. Kebiasaannya tak jauh dari biasanya. Dini yang ceroboh dan suka menunda-nunda pekerjaan. Tapi ia teman terbaikku. Sambutan dini sangat antusias dan ikut gembira mendengar kebahagiaanku, namun kalimatnya tergantung ganjil setelah itu.
“ira, ini sudah setahun. Dan kamu berhak mengetahui balasan cintamu. Cintamu yang sama sekali tak ku pahami”
“aku sudah memutuskan ,din. libur semester aku akan ke Jakarta “
Dini memelukku dengan hangat. Dia selalu memberi sugesti positif padaku. 
***

Saat-saat itu datang. Aku terlihat tegang dan haru. Apa mungkin ini akan berdampak baik buatku atau malah mengecewakan hatiku. Bukan, bukan karena nilaiku. Alhamdulillah nilaiku terlihat dinamis . aku mendapatkan juara umum lagi . nilaku terlihat sempurna. Kopian nilai sudah kumasukkan kedalam ranselku untuk kuperlihatkan pada dani. Operasi dani berjalan lancar. Ia sudah bisa belajar berjalan. Melawan segala ketakutan yang ia rasakan 2 tahun terakhir. Plus dengan semangat yang telah kuhantarkan. 
Pesawat sudah lepas landas di udara. Sama dengan hatiku yang luntang lantang menunggu sebuah keinginan yang sangat lama kupendam. Kucoba memutar sebuah lagu didalam telpon genggamku yang ku atur mode airplane. Penerbangan dengan durasi satu setengah jam mulai terasa lambat mengudara. Kubaca lagi pesan yang dikirim dani sebelum aku take off .
Aku sudah sampai di bandara. Aku tak sabar ingin bertemu malaikatku ini. Kuharap semua langsung nyata didepan mata. Akan kunanti, kunanti.
Bersabar sedikit dani. Kita akan bertatap muka. Sedikit lagi. Ucapku pasti. Pelan kucoba raba saku celanaku dan hendak mengantongi telepon genggamku lagi. Tak sampai memejamkan mata, ternyata pesawat bergetar dan
DARRR!!!
Petir itu sangat menakutkan. Ia seperti mengeluarkan tegangan listrik ratusan volt yang teramat sangar. Jelas semua penumpang ketakutan. Awak pesawat segera mengingatkan untuk tetap tenang dan berdo’a. ternyata pilot telah melewati awan kumulusnimbus yang sangat kejam.
“kencangkan sabuk pengaman, tetaplah bersikap tenang. Pilot akan mengkondisikan”
Darahku tak karuan beredar di otak dan pembuluh darahku. Bukan kematian yang ku takutkan. Tapi, apakah pertemuan ini memang akan semu untuk selamanya ? MENGAPA? Ini cinta pertamaku. Aku tak berdegup ketika nanda menatapku. Aku tak mengenal cinta sampai dia menyapaku. Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya, hanya untuk menatap matanya. Hanya untuk melihat semangat kesembuhannya. Hanya untuk membanggakan nilaiku saja .
Aku beristighfar semampuku. Tak ada perubahan. Kulihat separuh sayap sudah mulai hangus terbakar. Ku kumpulkan puing-puing keikhlasan dalam diriku. Jika ini memang rencanaNya, akan ada yang lebih baik dari ini di Surga nanti. Kucoba mengucapkan asma Allah kembali. Diwaktu pengucapan tahlil yang entah ke berapa aku tak bisa mengingatnya, kepala bertumbukan dengan benda tumpul dan teramat keras, lebih keras dari koper tuannya pria ku itu. Dan…
GELAP. Semuanya tak pernah kurasakan. Aku bagai berjalan di lorong malam sendirian. Tubuhku aneh tak bertuan. Bahkan untuk menyentuh wajahku saja terlalu transparan. Oh Tuhan. Ternyata ini rencanamu. Aku terpaku lama di kegelapan itu. Aku terus menerus berjalan dalam kegelapan. Tak kutemukan sesiapa disana. Aku terlalu hancur. Menangis tak guna. Tak lama setelah itu kulihat bayangan itu, dani. Entahlah aku tak paham. Entah dia yang tak nyata,atau entah aku yang sudah tak kasat mata. Aku bisa melihat dani keseluruhan. Dia bisa berdiri dengan gagah, oh Tuhan. Dia lebih tampan dari yang kubayangkan. Kenapa aku tak diizinkan untuk melihatnya seper sekian detik saja ? . dani langsung ambruk dalam tubuhku yang penuh dengan linangan darah. Ternyata pesawat yang kutumpangi sempat mendarat di Jakarta , namun gagal terselamatkan. Dani  yang tak bisa kusentuh , tak bisa berkirim pesan lagi. Dani menangis sekuat tangisan ku yang semu sekarang. ia memegang saputangan yang sempat dikirimkan padaku 5 bulan yang lalu . Ya. Dia lebih hebat mengenaliku hanya lewat benda bersejarah itu.
Tak kusangka ini begitu cepat. Jantung ini Detaknya bisa dirasakan, tapi tak dengan wujudnya . bahkan saat aku tiada, aku tak akan dapat menyentuh jantung itu.
Benar-benar semu, Dani.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar