Jantung Hanya Mengizinkanmu Berdetak
“Ira tidak mau balik ?
sudah setengah jam ini”
Aku menoleh dengan
malas. Ku gerakkan kepala sedikit untuk mengkonfirmasi pertanyaan dini. Hujan
memang sudah turun dari tadi. Perlahan membasahi dedaunan sampai merunduk. Mobil yang berlalu lalang
samar-samar kacanya tertutupi oleh bulir-bulir yang sekarang menjadi
puluhan,ratusan,dan bahkan ribuan tetesnya dari langit. Ada yang sedang
berhenti di halte bis seberang jalan untuk berteduh. Ada pula yang menghentikan
sepeda motor dan buru-buru berteduh di atap halte agar tidak terlalu basah
kuyup. Tampak sepasang remaja tanggung
sepertiku singgah sebentar di bagian kanan halte. Jelas tampak dari sini adalah
sepasang muda-mudi. Perempuan mengenakan kerudung percampuran warna merah hati
dan sedikit bercak-bercak biru hitam dan lelaki dengan kemeja hitamnya. Senyum
tipis dan candaan ringan ikut lumat dalam derai tawanya. Entahlah, mungkin
tidak hanya aku yang menyukai hujan. Setiap bulir yang turun selalu memberi
aura positif pada setiap orang. Kurasa begitu. Ini adalah salah satu alasanku
enggan balik bersama dini yang sudah menaiki bis baru-baru ini.
Aku
sudah mulai masuk sekolah lagi. Terima kasih ira. Kamu teramat pintar dalam
menyentuh hati seseorang. Aku berjanji tak akan pernah mengingat kecelakaan
itu, bagaimana mungkin kamu memprediksi setiap detailnya padahal kita hanya
bertemu tanpa tampak muka ?
Sedikit
sudut bibirku tersenyum tanggung membaca kata per kata pesannya. Jemariku tak
sabar ingin membalas pesan singkat itu. Dari seseorang yang tak tampak. Dia
bagai jantung yang bisa saja dirasa detaknya, namun aku tak pernah bisa
menggenggam dan melihatnya. Itu dia,Dani. Lelaki yang sampai sekarang tak ku
ketahui rupanya. Dengan senang hati nanti akan kuceritakan bagaimana indahnya
lelaki itu. Hujan sepertinya turut terhenyak dengan gejolak hatiku saat ini.
Aku yang sempat sedikit iri dengan sepasang muda-mudi tadi mengangkat dagu dan
tak tertarik lagi dengan kemesraannya.
***
Selepas
mengantar pamanku yang tengah berlibur disini, Aku terburu untuk membeli sebuah
air minum di toko kecil pelataran bandara. Anak dari pamanku yang masih 2 tahun
tiba-tiba menangis karena belum minum dari sejam yang lalu. Mataku dengan liar melirik kiri kanan dan ujung ke
ujung bandara, tampaklah satu kedai kecil dan retina mataku menangkap ada air
mineral disana, dengan terburu dan sigap aku langsung melesat tanpa
memperhatikan orang disekitar. Entahlah aku saja tak bisa melihat mereka yang kutabrak,
refleks aku meminta maaf sungguh-sungguh, wanita yang seperkiraanku berumur
30an itu –ketika aku perhatikan pasca tertabrak- urung memarahiku dan hanya
menggeleng . Oh maafkan aku karena seceroboh ini. Satu persatu kucoba untuk
berjalan lebih fokus dari segerombalan orang dengan mendorong keranjang barang.
Mungkin saja mereka akan check in
atau semacamnya. Dengan sigap jam tangan yang mulai lepas dari tangan kucoba perbaiki
cepat dan seketika…
BRUKKK!!!
Tubuhku
sekelebat ambruk menimpa sebuah benda keras didepanku. Oh tidak, ternyata itu
beberapa benda yang sangat sakit menimpa kepalaku. Kuraba sedikit, untung tidak
terasa darah dan kupastikan aku baik-baik saja. kucoba memberanikan diri
membuka mata dan mencari siapa pemilik benda keras itu – yang beberapa detik
kuketahui itu adalah koper– sampai-sampai meletakkannya di sembarang tempat.
Aku mulai gelagapan dan darahku tak karuan ketika roda dorongan koper tersebut
lepas dari sarangnya. Ya Tuhan! Kenapa aku seceroboh ini. Tak ada siapa-siapa
didekat tumpukan koper. Dengan cepat kukeluarkan pulpen dan secarik kertas lalu
menuliskan sesuatu.
Maaf aku tak
sengaja merusak kopermu, akan kuganti jika kau menuntut. 081275453645. Thanks.
Kertas
itu ku tinggalkan dan aku segera berlalu sembari hendak menyegerakan diri
membeli air minum.
***
Aku membalas pesan singkatnya dengan kata sederhana
dariku. Jemariku mengetik dengan apa
adanya dan terbias sesuatu. Ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu.
Sebelumnya aku tak tertarik dengan perkenalan semu ini. Aku sebelumnya jika
tidak tau apa tuan pemilik koper tersebut pria ataupun wanita. Seusia denganku
atau malah lebih tua dariku. Saat itu aku hanya sang pendosa yang berharap
meminta ampun atas kekacauan yang telah ku perbuat. Tak kusangka ternyata
responnya malah welcome sekali.
Bahkan sampai sekarang pesan singkatnya itu masih kusimpan di telepon
genggamku.
Tidak
apa-apa. Kau sangat baik dan bertanggung jawab sekali. Sebenarnya koperku juga
sudah rusak sebagian. Siapapun kamu , kau teramat baik.
Pesan singkat itu memberi goresan dihatiku. Siapapun itu,
dia sangat lembut. Kubalas pesan demi pesan yang bertubi-tubi datang setelah
kubalas pesan pertama darinya. Sungguh indah rencana Tuhan, dia masih muda.
Umurnya selisih 2 tahun dariku. Itu ku ketahui dari proses berkenalan selama
setahun dengannya. Selanjutnya hari-hari kami menyenangkan. Perkenalan semu ini
tak terasa, bahkan ketika sudah setahun
berlalu.
***
“ini sudah sore ra,
ayo. Kau kuantar pulang”
Lamunanku
yang masih menyentuh bulir hujan tersendat ketika mendengar suara nanda. Aku
sudah hafal sekali dengan suaranya. Aku tau dari gerak geriknya dia menyukaiku.
Tidak. Aku sama sekali tak tertarik padanya.
Aku menyukai seseorang yang semu, ya. Terdengar aneh dalam hati kalian.
Terlalu dini dan kalian tak akan mengerti. Bagai jantung yang tak terlihat.
Detaknya bisa dirasakan, tapi tak dengan wujudnya . bahkan saat kau tiada, kau
tak akan dapat menyentuh jantungmu.
Aku mengangguk saat dia menawarkan . kunaiki motor ninja
keluaran tahun 2013 itu dengan santai. Nanda memang sudah dekat denganku dari
kelas 2 SMP. Berulang kali dia memintaku menjadi pacarnya. Aku urung. Ia tak pernah lelah mengejar cintaku hingga
sekarang.
Tujuh delapan kilo terlampaui, nanda berbelok kearah
kanan persimpangan masjid Al-furqon yang berarti itu komplek rumahku.
Detik-detik memasuki pagar rumah sebelum turun, aku menyandang ranselku yang tadi kugenggam.
“terima kasih nan,
padahal rumahmu berlainan arah denganku. Maaf aku merepotkanmu”
Matanya teduh. Bibirnya
tersungging manis diwajah tampannya.
“hanya ini yang bisa
kulakukan demi mu. Kelak kuharap kau menerimaku, ira”
“kamu sangat tampan
nanda, terimalah salah seorang yang memberi cokelat lusa kemarin padamu”
Dia berlalu dengan
ekspresi yang sama sekali tak kumengerti. Aku tau matanya teduh dan berhati lembut.
Entah apa yang salah didiriku. Sama sekali aku tak tertarik dengan mata
teduhnya.
***
Pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya. Mungkin karena
masih tersisa keteduhan hujan yang membawa kedamaian. Hujan yang selalu
menjatuhkan bulir yang kurasa semu oleh nalarku. Saat semua bisa dijelaskan
oleh penggila pengetahuan . dari proses evaporasi hingga naik ke awan kemudian
terjadi kondensasi dan lanjut menjadi proses turunnya bulir-bulir indah seperti
ini. Tapi masih sangat semu bagiku, mengapa bisa saat mendongak keatas bulir
itu tak terlihat tampak dari awan, bahkan dari langit. Ku ambil kesimpualn itu
kuasa Tuhan.
Aku sangat bahagia sekali mendengar kabar dari Dani bahwa
ia akan segera di operasi. Ah aku lupa cerita bahwa Dani sebenarnya lumpuh
sejak ia kecelakaan 2 tahun yang lalu. Otot dikakinya tak bisa digerakkan. Ia
memulai kehidupan diambang keputus asaan. Kenapa tidak, dia adalah seorang
atlet renang dengan segudang medali dikamarnya –semua cerita itu kutau darinya-
yang ia raih sebelum kecelakaan tragis itu. Kami saling bertukar foto lewat
email. Dari matanya terlihat kesedihan yang mendalam. Di relung hatiku, aku
sangat merasa dekat dengannya. Sekali lagi, kedekatan yang semu. Dia selalu
memujiku dengan “kau benar-benar berbakat
menghibur orang sepertiku , Ira” atau dengan “bagaimana mungkin aku bisa seteguh ini dengan motivasimu”.
Kabar dani segera kuceritakan pada dini yang sedari tadi
sudah sibuk dengan paper untuk tugas
hari ini. Kebiasaannya tak jauh dari biasanya. Dini yang ceroboh dan suka
menunda-nunda pekerjaan. Tapi ia teman terbaikku. Sambutan dini sangat antusias
dan ikut gembira mendengar kebahagiaanku, namun kalimatnya tergantung ganjil
setelah itu.
“ira, ini sudah
setahun. Dan kamu berhak mengetahui balasan cintamu. Cintamu yang sama sekali
tak ku pahami”
“aku sudah memutuskan
,din. libur semester aku akan ke Jakarta “
Dini memelukku dengan
hangat. Dia selalu memberi sugesti positif padaku.
***
Saat-saat
itu datang. Aku terlihat tegang dan haru. Apa mungkin ini akan berdampak baik
buatku atau malah mengecewakan hatiku. Bukan, bukan karena nilaiku.
Alhamdulillah nilaiku terlihat dinamis . aku mendapatkan juara umum lagi . nilaku
terlihat sempurna. Kopian nilai sudah kumasukkan kedalam ranselku untuk
kuperlihatkan pada dani. Operasi dani berjalan lancar. Ia sudah bisa belajar
berjalan. Melawan segala ketakutan yang ia rasakan 2 tahun terakhir. Plus
dengan semangat yang telah kuhantarkan.
Pesawat
sudah lepas landas di udara. Sama dengan hatiku yang luntang lantang menunggu
sebuah keinginan yang sangat lama kupendam. Kucoba memutar sebuah lagu didalam
telpon genggamku yang ku atur mode airplane.
Penerbangan dengan durasi satu setengah jam mulai terasa lambat mengudara.
Kubaca lagi pesan yang dikirim dani sebelum aku take off .
Aku sudah sampai di bandara. Aku
tak sabar ingin bertemu malaikatku ini. Kuharap semua langsung nyata didepan
mata. Akan kunanti, kunanti.
Bersabar
sedikit dani. Kita akan bertatap muka. Sedikit lagi. Ucapku pasti. Pelan kucoba
raba saku celanaku dan hendak mengantongi telepon genggamku lagi. Tak sampai
memejamkan mata, ternyata pesawat bergetar dan
DARRR!!!
Petir
itu sangat menakutkan. Ia seperti mengeluarkan tegangan listrik ratusan volt
yang teramat sangar. Jelas semua penumpang ketakutan. Awak pesawat segera
mengingatkan untuk tetap tenang dan berdo’a. ternyata pilot telah melewati awan
kumulusnimbus yang sangat kejam.
“kencangkan
sabuk pengaman, tetaplah bersikap tenang. Pilot akan mengkondisikan”
Darahku
tak karuan beredar di otak dan pembuluh darahku. Bukan kematian yang ku
takutkan. Tapi, apakah pertemuan ini memang akan semu untuk selamanya ?
MENGAPA? Ini cinta pertamaku. Aku tak berdegup ketika nanda menatapku. Aku tak
mengenal cinta sampai dia menyapaku. Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya,
hanya untuk menatap matanya. Hanya untuk melihat semangat kesembuhannya. Hanya
untuk membanggakan nilaiku saja .
Aku
beristighfar semampuku. Tak ada perubahan. Kulihat separuh sayap sudah mulai
hangus terbakar. Ku kumpulkan puing-puing keikhlasan dalam diriku. Jika ini
memang rencanaNya, akan ada yang lebih baik dari ini di Surga nanti. Kucoba
mengucapkan asma Allah kembali. Diwaktu pengucapan tahlil yang entah ke berapa
aku tak bisa mengingatnya, kepala bertumbukan dengan benda tumpul dan teramat
keras, lebih keras dari koper tuannya pria ku itu. Dan…
GELAP.
Semuanya tak pernah kurasakan. Aku bagai berjalan di lorong malam sendirian.
Tubuhku aneh tak bertuan. Bahkan untuk menyentuh wajahku saja terlalu
transparan. Oh Tuhan. Ternyata ini rencanamu. Aku terpaku lama di kegelapan
itu. Aku terus menerus berjalan dalam kegelapan. Tak kutemukan sesiapa disana.
Aku terlalu hancur. Menangis tak guna. Tak lama setelah itu kulihat bayangan
itu, dani. Entahlah aku tak paham. Entah dia yang tak nyata,atau entah aku yang
sudah tak kasat mata. Aku bisa melihat dani keseluruhan. Dia bisa berdiri
dengan gagah, oh Tuhan. Dia lebih tampan dari yang kubayangkan. Kenapa aku tak
diizinkan untuk melihatnya seper sekian detik saja ? . dani langsung ambruk
dalam tubuhku yang penuh dengan linangan darah. Ternyata pesawat yang
kutumpangi sempat mendarat di Jakarta , namun gagal terselamatkan. Dani yang tak bisa kusentuh , tak bisa berkirim
pesan lagi. Dani menangis sekuat tangisan ku yang semu sekarang. ia memegang
saputangan yang sempat dikirimkan padaku 5 bulan yang lalu . Ya. Dia lebih
hebat mengenaliku hanya lewat benda bersejarah itu.
Tak
kusangka ini begitu cepat. Jantung ini Detaknya bisa dirasakan, tapi tak dengan
wujudnya . bahkan saat aku tiada, aku tak akan dapat menyentuh jantung itu.
Benar-benar semu, Dani.
***