#SATUKATACINTA

Jika kita sudah mengangkat tangan, Insya Allah Tuhan akan turun tangan

Minggu, 10 Januari 2016

Hijrah, Insya Allah.

selamat malam teenagers. udah kangen nge-blog lagi. pengen ceritain semuanya yang udah terukir menjadi kenangan hehehe. karena kesibukan dan urusan penting yang bikin blog saya udah banyak jaring laba-labanya nih, kaya spiderman wahaha.
malam ini saya mau cerita sedikit komprehensif dan ngambang, hehehe. gatau juga nih kenapa bisa terlintas aja di kening jenong ini untuk mencantumkan judul HIJRAH.
jadi ceritanya begini, saya merasakan gelombang elektromagnetik yang kuat untuk merasakaan tarikan jati diri yang mungkin sudah mencapai muaranya. semakin berkurang jatah umur didunia, semakin banyak cobaan hidup,semakin banyak pula pelajaran kehidupan yang bisa kita petik. ya memang itu semua hanya untuk orang yang berpikir.
kembali kepada pembahasan umur didunia yang semakin berkurang, apakah mungkin kita hanya berdiri di titik itu saja dan masih memakai logika berpikir remaja labil? sekali lagi, jatah umur didunia akan semakin berkurang.
sudah tidak ada waktu untuk berhura-hura lagi. orang tua butuh uang untuk memanjakan masa tuanya. mama butuh duduk dikursi goyang dan butuh diajak jalan-jalan. papa butuh pensiun dari pekerjaan dan mulai selalu mengecek rekening agar bisa dibahagiakan. jika memang kebahagiaan tidak hanya sekedar harta, namun komunikator kebahagiaan ada pada materi. mereka diusia senja butuh tempat bermanja terakhir yang akan menghadiahkan kita sebuah senyuman lega menatap anaknya. mulailah berhijrah berawal dari diri sendiri. lakukan hal yang akan bisa membuat kamu menjadi remaja yang positif. jangan hanya malas yang membuat kita menjadi remaja yang tak waras lalu tewas.
terkhusus untuk perempuan, perempuan sekarang sudah ada diambang batas kejayaan kemerdekaannya. hak untuk mendapat perlakuan yang sederajat dengan lelaki sudah ditangan. jadi saya memanfaatkan diri untuk sebaik-baiknya aktif dalam kegiatan organisasi. walaupun kodrati manusia pada umumnya memang akan bergelut pada urusan rumah tangga, namun dalam keluarga, anak harus mendapatkan agen sosialisasi primer yang bagus. anak membutuhkan tempat curhat dan orangtua yang cerdas dalam mengatasi setiap masalah, terutama sang ibu.
saya sangat merasakan manfaat organisasi tersebut. dimulai dari kita yang dikenal banyak orang, pandai dan mahir dalam berbicara didepan publik , serta menjadikan kita sebagai perempuan yang cerdas.
namun, jangan pernah melupakan kita sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab untuk mempertahankan prestasi akademik yaa girls ! saya sudah mencoba bereksperimen. ternyata hasilnya tak pernah mengkhianati proses. dalam sibuknya menjalankan kegiatan organisasi, saya sukses untuk meraih pemuncak-pemuncak dalam bidang akademik. 2 tahun yang lalu, seiring dengan terpilih menjadi wakil ketua osis, saat itu juga saya dinobatkan menjadi peraih juara umum tingkat sekolah. tidak hanya bangga karena meraih juara umum, namun poin pentingnya adalah ketika Guru mengumumkan bahwa saya menjadi mahasiswa teladan; wakil ketua osis yang sekaligus bisa menyeimbangkan diri untuk menjadi juara umum. tetesan air mata yang tak terkira berhasil menyapu keringat usaha yang tak pernah usai.
apa yang kalian pikirkan? saya mendapat fasilitas lengkap? atau saya sering mengikuti bimbel? sayangnya TIDAK. saya hanya berasal dari keluarga sederhana, sangking sederhananya sejak kecil saya sudah ditinggal oleh Ayah kandung. Ibu menjadi figur penting dibalik layar yang dengan susah payah berjualan dirumah hanya untuk menyekolahkan anaknya setinggi langit. inilah MOTIVASI terbesar yang sedari tadi saya singgung untuk memanjakan orang tua di hari tuanya.
saya tidak pernah sekalipun mengecap pendidikan bimbel. saya belajar otodidak,sebisa mungkin saya bertanya secara eksklusif kepada guru. masa SMA saya tidaklah menyenangkan. ditengah Ujian Nasional, saya tidak pulang kerumah dan menginap dirumah saudara karena ada permasalahan dirumah . ya, benar. saya salah satu korban dari broken home.saya selalu sedih melihat korban-korban lain yang tidak bisa hijrah kejalan yang benar. jangan jadikan kondisi menjadi penghalang,karena yang akan menjadikan kita sukses itu memang kita sendiri, bukan dari latar belakang kondisi keluarga.
saya juga tidak kaya. saya pernah menjajakan makanan ringan disekolah hanya untuk mendapatkan uang jajan. saya serba kekurangan bukan? berpikirlah untuk hijrah sekarang.
tidak hanya sampai disitu, di kampus saya masih terus aktif dalam kegiatan organisasi dan (masih) berusaha untuk menyeimbangkannya dengan prestasi akademik. dan lagi-lagi usaha tak pernah mengkhianati proses. saya masih berhasil meraih IPK tertinggi di Fakultas dan dipanggil ke Auditorium untuk memperlihatkan Mahasiswa Unand yang berprestasi. sungguh menyenangkan bukan?
jika ada yang menyangka ini adalah bualan dan kepameran semata, ya . saya bangga dengan hasil yang saya raih. dan saya ingin menyadarkan banyak remaja yang masih suka keluyuran sana sini dan asik dalam pergaulan bebas. betapa bangganya menjadi kebanggaan keluarga, menoreh senyum lepas orang tua dan menghapus lelah di wajah keriputnya. ini benar-benar candu untuk selalu mengukir prestasi lagi.
satu hal yang menjadi cambuk bagi saya kedepan, saya tidaklah lebih dari sebutir pasir dipantai yang menghadapi buih ombak yang siap pasang dan surut. saya masih akan lebih banyak belajar kepada sosok-sosok yang selalu bisa mencetak prestasi yang lebih dari saya. satu do'a yang paling sering saya minta kepada yang maha Kuasa; sifat tamak,congkak, dan dengki hati- lah yang akan meruntuhkan kepribadian saya. sifat cepat berbangga dan sifat sombonglah yang harus dimusnahkan untuk membersihkan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar