Setelah berusaha untuk mengumpulkan niat menulis yang semakin memburuk akhir-akhir ini, saya mencoba rapel beberapa pengalaman saya yang langsung saya posting malam ini, hehe. Perlu diakui, bahwa memang orang-orang hebatlah yang mampu menulis, pepatah kuno juga kerap kali menyadarkan kita bahwa jika kita bukan dari kalangan bangsawan, satu-satunya cara untuk menjadi terkenal adalah dengan menulis.
Saya juga bukan manusia yang penuh dengan optimisitis dan hidup terencana. saya hanyalah perempuan yang tidak tau apa-apa tentang cakrawala, juga manusia yang tidak melek ensiklopedia. mungkin tidak patut rasanya saya berada di posisi memberi motivasi, karena saya rasa teman-teman punya energi yang lebih dari yang kita kira. Rasa malas sangat sulit untuk saya kalahkan. Selain setan, musuh terbesar dalam hidup saya mungkin salah satunya adalah rasa malas.
oke, tanpa banyak preambule, saya ingin langsung berbagi cerita kepada teman-teman, yang baiknya semoga bermanfaat, yang buruk semoga menjadi pelajaran kehidupan. hehehe.
Saya bukanlah apa-apa, saya hanya satu dari sepersekian manusia di dunia yang beruntung karena do'a dari orangtua.
Sabtu, 24 Februari 2018 saya resmi diwisuda menjadi salah satu pengangguran di Indonesia a.k.a Sarjana Sosiologi. Sebuah disiplin ilmu yang memiliki prestise buruk di mata masyarakat, pun tidak hanya di Indonesia, namun juga di Amerika sebagai Negara yang juga banyak menyumbang Sosiolog modern. Namun, ya masih lumayan, menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, Sosiolog lebih tinggi sedikit prestise nya dibandingkan dengan artis, hehehe.
Tidak sedikit yang kadang meremehkan program studi saya, mungkin teman-teman juga. Apalagi saya, alhamdulillah beruntung diamanatkan sebagai lulusan terbaik Universitas Andalas dengan IPK 3,97. ya iya dong kan kuliahnya gampang.
GAMPANG?
Sosiologi mempelajari tentang bagaimana hubungan antara sesama manusia dan hubungan manusia yang hidup secara kolektif, hemat dari saya. Pembahasannya sangat kompleks dan perlu memiliki analisa sosiologi yang melihat tembus di balik (kata Peter L berger). Apakah teman-teman sendiri pernah melihat manusia yang sangat jujur dan apa yang dilakukannya adalah juga senada dengan apa yang dipikirkannya ? saya rasa mungkin tidak ada satupun didunia ini. Bahkan saya juga bukan manusia yang senaif itu. hehe. tidak heran jika mungkin teman-teman dari disiplin ilmu lain bisa melewati seminar proposal ke ujian skripsi hanya dalam kurun waktu yang kurang dari 3 bulan. Sedangkan untuk bisa memiliki sense "tembus di balik" itu, 3 bulan jarak waktu dari seminar proposal ke ujian skripsi adalah level dewa dengan skripsi yang tidak akan kurang dari 150 halaman. itupun anda akan beruntung jika lulus dengan sekali ujian. tidak lulus ujian skripsi tidak menjadi momok yang menakutkan lagi di sosiologi.
eh itu IPK 3,97 pasti belajar terus ya? kuliah pulang kuliah pulang kan?
ini adalah bisikan tetangga yang paling sering sekali saya dengar, hanya jika ia tidak benar-benar kenal dengan saya.
dari awal saya teramat menggemari kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang dan berhubungan dengan sesamanya. menurut saya ini bukan merupakan hal yang patut untuk dibanggakan, karena semua orang tanpa pandang bulu, pasti mampu untuk ini. organisasi membesarkan nama saya sejak kecil. sejak SD, tidak hanya di sekolah, namun saya juga aktif berkontribusi pada kegiatan mushola tempat saya tinggal. mulai dari berpartisipasi menjadi peserta hingga mampu menjadi pengurus serta panitia.
organisasi juga sangat mempengaruhi kepribadian saya. dan mungkin, jika bukan karna organisasi, saya tidak akan berani kuliah di sosiologi. saya juga belajar berbicara didepan umum, kemudian perlahan saya tidak merasakan demam panggung yang begitulah. walau sesekali juga pernah, namanya juga manusiawi, hehe.
hingga ketika memasuki bangku SMA, saya dipercayakan menjadi wakil ketua osis, pradana Pramuka, Pengurus Forum Anak kota Padang dan Kecamatan, hingga Karang Taruna Kecamatan. belajar di ranah organisasi juga akan membuat kita bisa menyempurnakan teknik berbicara. karena seperti halnya bahasa, berbicara bukan tentang teori, namun hanyalah masalah jam terbang saja. walau demikian terbaginya konsetrasi antara belajar dan kegiatan lain, alhamdulillah saya masih beruntung dan diberi karunia oleh Allah untuk tetap menjadi juara umum dengan berusaha untuk keluar dari zona kegengsian pelajar pada umumnya, karena saya memang menyukai IPS sejak lama. dan memang, IPS dan IPA hanya masalah selera dan tidak ada hirarki bukan?
masa-masa kuliah malah merupakan masa-masa tersibuk, di sela kuliah padat 24 sks, saya juga terlibat di beberapa kegiatan non organisasi baik dikampus maupun diluar kampus. beberapa diantaranya kegiatan sosial, voluntir, hingga pertemuan nasional. kegiatan yang paling banyak mencurahkan emosi dan air mata adalah Kongres Nasional Sosiologi dimana saya sendiri yang menjadi ketua-nya, dengan jiwa childish yang masih menganggu saya, alhamdulillah sukses dan diapresiasi oleh banyak pihak.
sesekali jika saya tidak malas (maafkan saya :( ) saya juga mengirim beberapa tulisan di koran. alhamdulillah tulisan pertama saya langsung diterbitkan walau itu tulisan yang jauh dari kata sempurna, sekali lagi saya katakan: SIAPA SAJA BISA ! semangat saya semakin terpacu, termasuk teman-teman dan junior saya kala itu. Alhamdulillah, hingga sekarang banyak yang sudah rutin mengirim ke editor.
iyalah nilainya bagus, keluarganya berada kali, fasilitasnya lengkap sih!
hahaha..
paradoks sekali padahal dengan kenyataannya.
jika teman-teman tau bagaimana cerita hidup saya, mungkin teman-teman mengira saya kebanyakan nonton drama korea (walau iya sih hehe)
saya jauh dari kata berada, keluarga saya juga jauh dari kata "lengkap". fasilitas yang saya punya juga jauh dari kata "ada".
tapi, mungkin benar teori dari Arnold Toynbee, orang yang bisa berubah adalah orang yang bisa menerima tantangan dan kemudian mencoba untuk menjawab tantangan tersebut. saya merasa sangat menyedihkan, hingga saya sering sekali bermimpi untuk tetap terlihat sehat, tangguh, dan tak terkalahkan.
maka hari ini, saya bisa menjamin bahwa tidak ada kartu jackpot untuk sesiapapun di dunia ini untuk menjadi sukses. tidak ada yang namanya ascribed status, sekarang sudah tidak zaman kerajaan. KESUKSESAN BUKAN HANYA UNTUK ANAK SULTAN!
jika boleh saya berbagi cerita, tips yang bisa saya berikan kepada teman-teman adalah :
1. jika kamu bukan orang yang penuh dengan rencana, setidaknya lakukan sesuatu yang bermanfaat satu hal saja setiap harinya
2. jika kamu bukan orang yang bisa belajar dengan tekun ala sinetron dengan ciri khas meja belajar di kamar dan lampu disebelahnya, kamu harus benar-benar paham dengan apa yang dijelaskan dosen pada saat kuliah, hingga ketika ujian hanya tinggal me-review saja.
3. jika kamu diberi waktu 24 jam oleh Tuhan, 8 jam untuk tidur demi kesehatanmu, 12 jam untuk waktu di kampus, 2 jam untuk kongkow tidak masalah, itu pergaulanmu. namun, jangan egois untuk tidak menyisakan waktu walaupun cuma 1 jam untuk belajar. apa saja.
Tapi ingat, menjadi lulusan terbaik juga bukanlah segala-galanya. penghargaan hanya akan mewah dengan sekali jepretan foto dan sehari ucapan selamat. yang terpenting adalah bagaimana setelah itu.
sekian teman-teman. correct me if i am wrong. semangat mencoba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar