#SATUKATACINTA

Jika kita sudah mengangkat tangan, Insya Allah Tuhan akan turun tangan

Kamis, 05 November 2020

Perihal Motivasi

Karl Marx bilang, agama itu candu.
ia bisa meninabobokan proletariat untuk tidak menyadari bahwa dirinya ditindas.

bagiku, kata motivasi juga candu. 
ia bisa meninabobokan kita dengan kata optimis dengan ujuk menginspirasi, padahal secara laten bisa menindas diri kita sendiri. 

Orang bilang, takdir itu udah ada yang ngatur. 

ada yang bilang gini :

if you want really something very badly, set it free
if comes back to you, it is yours forever
it doesn't, it was never yours to begin with

sesuatu yang udah ditakdirkan untuk kita, bakal jadi milik kita kok.
kamu setuju gak ?

aku mungkin ga terlalu setuju. 

satu sisi, takdir bukanlah qada yang tanpa ikhtiar didalamnya. apakah benar takdir itu akan datang walau kita lepaskan? 
lalu apakah ia akan datang tanpa usaha itu sendiri ?

sebagai seorang yang sudah ada pada belenggu ilmu sosial yang semakin hari makin gila aja, narasi besar seperti ini membuatku sinis. generalisasi adalah nihil. ditambah untuk aku si manusia yang berkomposisi keras kepala semakin tidak mempan dengan motivasi apapun, itu aku. mungkin kamu tidak begitu. 

ikhtiarku selalu bertubi-tubi sampai titik finalnya. apa yang rasaku bisa diperjuangkan, akan diperjuangkan. sampai usaha itu sendiri terkadang yang mengkhianati kita. 


usaha gak akan pernah mengkhianati hasil. 

aku tidak akan mendoktrin diriku sendiri dengan ini. setidaknya aku meminimalisir untuk tidak terlalu terluka oleh abstraksi.

kata motivasi itu hanya akan membuat kita terlalu percaya bahwa usaha akan membuahkan hasil yang baik, dan itu adalah hukum yang mutak.

padahal, banyak yang rajin sekali belajar agar bisa sukses, tapi prestasinya gak mewakili keringatnya.
banyak yang sudah latihan berulang kali agar lulus kerja, tapi lagi-lagi gagal. kadang tidak ada saja kabar.
kita sering dikalahkan dengan realitas lain bahwa mereka yang punya 'relasi' memang punya jalan emas. 

kenapa usaha mereka mengkhianati hasil ?
apakah mereka memang tidak berdarah-darah di ikhtiarnya ?

bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian.

orang yang mereka sakit di awal, dan masih sakit saja sampai sekarang, itu bagaimana ?
petani juga harus pergi ke sawah dari pagi ke pagi, hasil taninya dicurangi regulasi. 
mahasiswa disuruh giat berakademisi, tapi selalu saja prospeknya kalah dengan relasi. 

lalu, senang yang bagaimana maksudnya?

Lyotard bilang, Narasi besar atau contoh sederhananya seperti "kata motivasi di atas" kadang mencabik hati kita sendiri. 

sudahlah, hidup saja. dengan dirimu sendiri. dengan Tuhanmu. ukir dengan versimu sendiri.

hentikan semua kata motivasi yang berisi optimistis kalau saja akan meracunimu perlahan dengan ekspektasi. 


hidup saja. hidup sebagaimana kamu tau trajektori biografis dari lahir hingga sekarang. kamu saja yang akan tau luka yang pernah menyelimuti, kenangan yang membersamai, dan alasan lainnya yang ditanggung dirimu sendiri.  

kamu boleh istirahat dari ekspektasi. 

usaha semampu, sewajarmu, sewarasmu. 

bagiku yang sering dikhianati eskpektasi, dicurangi usaha sendiri. 
aku berhak untuk tidak bahagia, 
aku berhak memberontaki hidupku melalui tulisan sebagai ruang katup penyelamatku, jika kalau ditahan aku meledak sendiri. 

tulisan ini hanya untuk diriku. 

tentu tulisanku kadang tidak cocok denganmu, trajektori biografismu, luka-lukamu, rahasia terbesarmu, kita tidak sama.

kamu berhak mengeluh seperti ini, kamu berhak menulis trajektori hidupmu sendiri.