Alhamdulillah, tahun 2018 merupakan tahun terbaik yang pernah saya jalani. tidak selang dari beberapa bulan setelah lulus, saya berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan Indonesia LPDP. banyak dari teman-teman yang belum familiar dengan beasiswa ini, padahal beasiswa ini langsung dinaungi oleh kementerian keuangan dan bekerja sama dengan kementerian pendidikan Indonesia.
Beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang diperuntukkan untuk lulusan S1/D4 yang ingin melanjutkan pendidikan S2, serta lulusan S2 yang ingin melanjutkan ke S3. Beasiswa ini terbagi menjadi beberapa kategori, tiap-tiap kategorinya memiliki kualifikasi yang berbeda-beda. biasanya setiap tahun LPDP juga memiliki penambahan kategoru untuk meningkatkan kualitas dari penerimanya dan mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia.
berdasarkan lokasi perguruan tinggi sendiri, beasiswa ini dibagi dua, yakni Dalam Negeri dan Luar Negeri. Karena saya mengambil S2 dan kampus tujuan di Dalam Negeri, jadi saya hanya menjelaskan di bagian ini saja.
pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah mengenai standar IPK dan Toefl. ini mungkin momok yang agak menakutkan yaa bagi semua orang, termasuk saya. hehe
untuk kategori reguler, kamu cukup hanya punya IPK 3.00, namun Toefl 500. sedangkan untuk afirmasi, yakni kategorinya : alumni bidikmisi, daerah 3T, keluarga pra sejahtera, miskin berprestasi.
teman-teman punya IPK 3.50 dengan Toefl 400. tapi bagaimana penjelasan kategori tersebut cek saja ya websitenya.
tahapan seleksi LPDP pada tahun saya merupakan tahapan yang paling kompleks, yakni terdiri dari 3 tahapan, yakni :
1. seleksi administrasi
2. seleksi berbasis komputer : Tes Potensi Akademik, On The Spot Essay Writing, dan Tes Psikologi.
3. Seleksi Substansi : Verifikasi Dokumen dan Wawancara
Namun, karena ribetnya tahapan seleksi LPDP, saya akan membaginya menjadi beberapa chapter. untuk chapter ini, khusus saya akan membahas tentang seleksi administrasi.
karena untuk seleksi tahun depan masih lama, biasanya diadakan di Bulan April-Mei (silahkan pantau websitenya). teman-teman juga bisa bergabung di grup telegram mengenai informasi LPDP yakni
t.me/lpdp2018 .
ada beberapa berkas yang saya rasa harus teman-teman persiapkan dari sekarang, dan menurut saya ini juga krusial, yakni menulis 2 essay yakninya statement of purpose dan rencana studi. statement of purpose adalah essay tentang kontribusi yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk Indonesia. pada 1 tahun sebelumnya juga ada essay "sukses terbesar dalam hidupku", namun entah mengapa di tahun saya sudah tidak digunakan lagi.
tips membuat essay adalah teman-teman tidak usah pesimis jika tidak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa. buatlah essay dengan apa adanya yang pernah teman-teman lakukan walau itu hanya hal kecil, namun memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat; itu adalah poinnya. coba diingat-ingat lagi, apa yang sudah pernah teman-teman lakukan. dan jika waktunya masih panjang menjelang LPDP dibuka kembali, coba isi kegiatan teman-teman dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.
berikut adalah contoh essay "statement of purpose" versi saya. sekali lagi, ini adalah genuine sebagaimana adanya saya. tentu saja saya berbeda dari teman-teman. LPDP adalah lembaga yang sangat teliti, jangan sampai terdeteksi plagiarisasi. saya yakin teman-teman bahkan lebih layak menjadi awardee dan punya kontribusi yang lebih banyak dari saya.
Statement of Purpose
Untuk menjadi sosok yang luar biasa harus mampu melewati hal-hal yang tidak biasa. Begitupun dengan saya, Indah Sari Rahmaini, anak dari pasangan kedua orang tua yang telah bercerai dan hidup dengan sangat sederhana. Ayah dan Ibu telah bercerai sejak saya masih berumur 1 tahun. Berulang kali ibu menikah kembali demi mencari kebahagiaan abadi yang diinginkan setiap pasangan yang gagal menjalin bahtera rumah tangga. Keadaan tersebutlah yang membuat saya bermimpi menjadi orang besar. Keberhasilan meraih predikat lulusan terbaik dan wisudawan tercepat membuat saya semakin yakin untuk melanjutkan perguruan tinggi dengan harapan besar atas beasiswa ini yang sengaja dipersiapkan untuk anak bangsa yang kurang mampu seperti saya.
Usaha dan proses menjadi orang besar haruslah dimulai dari hal kecil agar mampu mejadi pelita yang mampu menaungi orang lain. Terlahir sebagai manusia menjadikan kita selangkah lebih mulia dibandingkan makhluk lainnya disisi sang maha Kuasa. Nyata adanya jika kita bisa memuliakan masyarakat disekitar kita dengan memberikan secercah kehidupan. Proses untuk bisa merealisasikan definisi manusia sebagai makhluk sosial telah ditanamkan bangku sekolah dasar. Kala itu, saya aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler, yaitu: pramuka, paduan suara, tim pelaksana upacara bendera, hingga pembacaan asmaul-husna. Belasan tahun yang lalu, disaat menduduki bangku sekolah dasar kelas 5, saya menjadi siswa pertama yang bisa menghafal 99 asmaul husna di sekolah. Pada saat itu kota Padang tengah menggalakkan untuk mengumandangkan nama Allah sebagai jalan berserah diri dari gempa bumi yang melanda bumi andalas waktu itu. Sebagai penghargaan atas itu, saya mendapat hadiah berupa dua buah buku tulis dan pena untuk persiapan perlengkapan menuju kelas 6.
Terbiasa untuk tampil dan berbicara didepan umum membuat saya percaya diri atas mimpi yang saya rajut. Memasuki usia remaja, saya juga dipercaya menjadi sekretaris ikatan remaja di Mushalla tempat saya berasal. Kami telah banyak mengadakan kegiatan bernada islami seperti lomba MTQ, Nasyid, dan khatam Alqur’an. Disana, Ustadz tidak hanya mendidik kami untuk bertuhankan Esa, namun juga mengajarkan bagaimana berdiskusi dan memecahkan masalah, berdebat, hingga berorganisasi.
Ketika tahun pertama SMA, saya dipercaya untuk menjadi wakil ketua OSIS. Kondisi sekolah yang usianya masih kurang dari delapan tahun membuat kami terpacu untuk bisa membuat beberapa inovasi untuk pengembangan sekolah dibawah koridor visi misi OSIS, salah satunya adalah membuat logo sekolah. Logo tersebut didesain bersama tim dengan makna disesuaikan dengan visi misi sekolah pada saat itu. Logo tersebut disambut baik sekolah dan akhirnya digunakan hingga sekarang dan menjadi memori OSIS yang tidak akan pernah kami lupakan.
Saya percaya bahwa pencapaian akademik saja tidak cukup untuk mempersiapkan diri menjadi orang besar. Saya juga aktif menjadi pengurus forum anak di tingkat kecamatan maupun kota. Pada forum tersebut, kami berupaya untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dengan mengadakan berbagai kegiatan yang dapat mewakilkan suara anak bahkan pada pembuatan kebijakan terkait anak. Kami juga mengadakan kegiatan sosialisasi ke berbagai sekolah dalam pencegahan kekerasan terhadap anak dan perlindungan anak di kota Padang.
Pada lingkungan tempat tinggal, saya terpilih menjadi wakil ketua puti bungsu pada tingkat kecamatan di forum Rang Mudo Puti Bungsu atau disingkat RMPB. Forum tersebut bertujuan untuk melestarikan kembali adat dan kebudayaan minangkabau ditengah arus modernisasi yang sangat cepat. Sebelumnya, saya hanya aktif di tingkat kecamatan saja, hingga pada akhirnya saya ditarik ke tingkat kota karena tidak sengaja mewakilkan salah seorang pengisi acara debat hari Valentine yang berhalangan hadir di Palanta Walikota Padang. Awalnya, saya hanya menjadi pengganti saja untuk melengkapi formasi. Namun saya berinisiatif meminta kesempatan berbicara untuk menyampaikan pandangan. Setelah acara selesai, saya akhirnya terpilih untuk mengikuti kegiatan di tingkat kota.
Memasuki bangku perkuliahan, saya mulai aktif di karang taruna kelurahan. Atas perpanjangan tangan dari kepengurusan, saya juga turut mewakili kelurahan untuk menjadi penggiat anti narkoba yang dibentuk oleh BNK Kota Padang sebagai penyuara pencegahan penyalahgunaan Narkotika di lingkungan tempat tinggal masing-masing penggiat. Berkesempatan kuliah di jurusan Sosiologi Universitas Andalas membuat saya memiliki wadah untuk menggali diri dalam berorganisasi. Saya bergabung kedalam Himpunan Mahasiswa Sosiologi sebagai sekretaris umum. Pada tahun 2016, pada saat Sumatera Barat terpilih menjadi tuan rumah Kongres Nasional Himpunan Mahasiswa Sosiologi se-Indonesia, saya terpilih
menjadi ketua pelaksana. Sangat sulit sekali bagi saya mengkoordinir acara bertaraf nasional saat itu. Namun, atas kerja sama tim serta banyak bertanya kepada senior, dosen, dan keluarga membuat saya optimis menjadi seorang ketua. Bertemu dengan mahasiswa sosiologi Indonesia dan berdiskusi panjang memberi makna bahwa mempelajari Sosiologi mengharuskan kita merasakan urat nadi masyarakat atas ketidakberdayaan dan keanekaragaman itu sendiri, termasuk keanekaragaman dari mahasiswa yang hadir saat itu. Saya bisa melihat betapa hebatnya mahasiswa daerah perbatasan dan tertinggal dalam menyuarakan pemikirannya. Selain bertukar pemikiran terkait dengan isu sosial yang terjadi di Indonesia, kami juga mengadakan kegiatan bakti sosial di salah satu daerah tertinggal di kota Padang.
Dewasa ini kita menyadari bahwa kontribusi dari generasi muda memang sedang diidamkan oleh bangsa. Generasi muda adalah aktor pemersatu bangsa. Generasi muda bisa menyuarakan aspirasinya tidak hanya dengan melakukan orasi atas penyuaraan secara lisan, namun juga dapat dilakukan dalam bentuk tulisan. Sebagai seorang sarjana sosiologi, tulisan adalah senjata ampuh untuk memperdebatkan permasalahan moral yang terjadi pada era digital dewasa ini. Saat ini, ada 4 artikel opini yang telah dimuat di beberapa koran lokal diantaranya; Dekonstruksi Generasi Micin untuk Keseimbangan Generasi Z (terbit di Padang Ekspress bulan Desember); Jual Beli Prestise Kids Jaman Now (terbit di Padang Ekspress bulan Januari); Ketika LGBT menjadi Sebuah Gerakan Sosial (terbit di Haluan bulan Februari); dan Indonesia dan Pemilih Pemula (terbit di Padang Eskpress bulan Maret).
Saat ini saya tengah bergabung pada sebuah LSM di Sumatera Barat sembari belajar bagaimana menjadi seorang fasilitator dalam melakukan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu keahlian dari sosiolog menghadapi masyarakat. Kedepannya, saya juga turut menjadi bagian dari tim untuk melakukan survei evaluasi kinerja Bupati Agam yang dinaungi oleh LSM serta dibawahi langsung oleh BAPPEDA. Setelah lulus dari program magister nanti, saya berniat untuk aktif pada pemberdayaan masyarakat, akademisi, dan peneliti yang hebat dan bisa membuktikan bahwa sosiologi adalah salah bidang esensial dan penting dipelajari serta tidak kalah dari bidang konsentrasi lain. Pembangunan SDA harus di seimbangkan dengan SDM yang berkualitas tidak hanya pada segi kesehatan dan skills, namun juga berkapasitas dalam mengisi volume keberadaban dari masyarakat demi Negara Indonesia.
2. Essay rencana studi
RENCANA STUDI
Pada
bulan Februari 2018, saya dinobatkan menjadi lulusan terbaik dan tercepat
dengan IPK 3,97 dengan masa studi 3 tahun 4 bulan. Mempelajari sosiologi
membuat saya paham mengapa Tan Malaka dengan kerasnya menekankan bahwasanya
tidak ada gunanya ilmu setinggi langit jika masih memandang rendah petani yang
membawa cangkul ke sawah. Rendahnya kesadaran kaum intelektual melihat keadaan
moral dalam merangkul pembangunan dewasa ini membuat saya ingin menjadi bagian
dari agen daripada perubahan, salah satunya adalah dengan melanjutkan studi
sosiologi ke Universitas Gadjah Mada. Pemilihan Universitas Gadjah Mada sebagai
Universitas impian bukanlah tanpa alasan. Dengan visi untuk menjembatani masalah
pembangunan dan perubahan sosial bisa mendorong saya untuk menjadi sosiolog
yang aplikatif dan turut andil dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Selain
itu, program magister sosiologi UGM juga mengedepankan pengembangan ilmu dalam
pemberdayaan masyarakat, peka dalam menganalisis isu sosial, serta kemampuan
menulis kritis sebagai sarana menjawab tantangan yang terus berkembang dalam
masyarakat.
Berawal
dari ketertarikan saya meneliti mengenai anak yang hidup dalam keluarga remarriage, penelitian yang
menghantarkan saya menjadi sarjana sosiologi berjudul “Pola Interaksi Anak dan
Ayah Tiri dalam Keluarga Remarriage”. Ketertarikan
saya mengambil topik tersebut dikarenakan dekatnya lingkungan saya dengan anak
dari korban perceraian yang hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Hal menarik
yang saya temui adalah anak mengorbankan kebahagiannya demi kebahagiaan ibunya
yang pada umumnya menjadi korban perceraian.
Beberapa bulan yang lalu ditengah
penelusuran saya di sosial media, saya membaca artikel yang menyatakan bahwa
pada tahun 2017 BNPB mencatat bencana alam terjadi sebanyak 2.175 kali di
seluruh penjuru Indonesia (nasional.kompas.com). Mulai dari gempa bumi dan
tsunami, angin puting beliung, banjir bandang, dan lain sebagainya. Bencana
yang terjadi tidak hanya menimbulkan korban jiwa, namun juga ketidakstabilan
ekonomi melanda masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia masih bergantung hidup
kepada alam akan menimbulkan tingginya angka kemiskinan. Oleh karena itu, saya
ingin mengembangkan rencana penelitian saya pada optimalisasi penguatan
Kelompok Siaga Bencana (KSB) agar bisa melakukan evakuasi mandiri serta tangguh
bencana. Sejatinya bencana adalah gejala alam yang tidak bisa dihindari, namun
dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir jika masyarakat cerdas dalam membaca
situasi. Jalannya penelitian tersebut akan terbantu dengan keikutsertaan saya bersama
LSM Jemari Sakato yang bergerak dalam mengembangkan UMKM bagi yang tinggal
disepanjang pesisir pantai Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam. Pengembangan
tersebut menciptakan kondisi tangguh bencana ketika kepala keluarga tidak bisa
melaut karena kondisi cuaca buruk. Saya juga turut serta dalam workshop
penguatan Kelompok Siaga Bencana (KSB) di Kabupaten Solok dalam program Partisipatory Rural Appraisal (PRA).
Pemilihan magister sosiologi Universitas Gadjah Mada dirasa cocok dalam
mengembangkan penelitian saya dilihat dari visi misi yang sangat mengedepankan
sosiologi dalam penerapannya memecahkan permasalahan pembangunan dan perubahan
sosial.
Berdasarkan pengalaman belajar pada
jenjang S1, pengabdian masyarakat bersama LSM, hingga kegigihan dan kerja
keras, saya berkeyakinan untuk melanjutkan studi magister sosiologi di
Universitas Gadjah Mada. Program magister berlangsung selama 4 semester dengan
beban sks sebanyak 45 SKS. Semester awal akan dimulai dengan mengambil 18 sks,
semester dua dengan 18 sks, semester 3 diawali dengan seminar penyusunan
penelitian hingga semester 4 dengan ujian tesis. Pendaftaran berkisar pada
bulan April-Juli 2019. Dalam kurun waktu 2 tahun, mata kuliah yang saya
rencanakan untuk dipelajari adalah sebagai berikut :
|
Semester
|
Mata Kuliah
|
SKS
|
Keterangan
|
|
1
|
Teori Sosiologi Klasik dan Kontemporer
|
3
|
wajib
|
|
Metode Penelitian Kuantitatif
|
3
|
wajib
|
|
Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang
|
3
|
pilihan
|
|
Negara Pasar: Isu kesejahteraan Sosial
|
3
|
pilihan
|
|
Pembangunan dan Ketimpangan Sosial
|
3
|
pilihan
|
|
Analisis Sosial untuk Pembangunan dan Demokrasi
|
3
|
pilihan
|
|
2
|
Metode Penelitian Kualitatif
|
3
|
wajib
|
|
Konflik, Pembangunan, dan Perdamaian
|
3
|
Pilihan
|
|
Gender dan Seksualitas
|
3
|
pilihan
|
|
Kajian Budaya dan
Pos-Kolonial
|
3
|
pilihan
|
|
Agensi Kelembagaan dan Demokrasi Lokal
|
3
|
pilihan
|
|
Globalisasi dan Pembangunan Lokal
|
3
|
pilihan
|
|
3
|
Seminar Penyusunan Rencana Penelitian
|
3
|
wajib
|
|
4
|
Tesis
|
6
|
wajib
|
|
Total SKS
|
45 SKS
|
Tidak hanya berkeinginan kuat untuk
melanjutkan studi S2 di UGM, saya juga bertekad untuk mencari pengalaman ke LSM
PKBI di Yogyakarta di bidang pemberdayaan masyarakat. Berkegiatan di bidang
pemberdayaan masyarakat akan mempermudah saya untuk terjun ke masyarakat
nantinya sembari mempersiapkan diri menjadi sosiolog. Saya juga akan terlibat
pada beberapa kegiatan kampus seperti penelitian, organisasi, dan mengisi waktu
kerja part-time untuk menambah biaya keperluan kampus jika dibutuhkan.
sekian dari saya, semangat mencoba teman-teman. ditunggu menjadi awardee LPDP tahun depan yaa!!
jika masih ada yang ditanyakan silahkan komentar dibawah yaaa...